kalau monogami saya tahu

Bapak A : (presentasi industri herbal) …blablabla..di Farmakope Herbal Indonesia akan tercantum monografi tanaman..blablabla..
Bapak Dufan : mmm..sebentar2..monografi itu apa?
Saya : (dalam hati) SERIUUSSS LOOOOO????

Add comment 22 May 2009

blame it on the weatherman

Berkunjung ke suatu perusahaan kosmetika tiga besar di Indonesia, rasa-rasanya saya semakin ditampar! Plakk plakk plaakk! Siapa yang tega seperti itu? Kata-kata terakhir ibu pembimbing saya yang tega. Kembali dari masa tiga bulan yang lalu dan menohok seperti sembilu (mulai me-Nafa Urbach). Institusi ini keliatannya punya orang-orang dari segala bidang, profesor, doktor, master..dari segala negara yang sistem pendidikannya diacungi jempol. Lalu kemana itu semua? Tidakkah membekas? Well, mungkin saya si bodoh yang belum apa-apa sudah menilai yang tidak-tidak. Tapi pertemuan hari ini bisa memberikan sedikit bayangan, betapa … ah bagaimana mengungkapkannya! Institusi yang kami wakili keciiil sekali harganya, begitu mungkin penilaian saya terhadap respon sang industri.

Rasanya malu, gemas, melihat kapabilitas yang dimiliki, jika ada, tidak diperlihatkan maksimal seperti serapan molekul vitamin C pada panjang gelombang 266 nm. Bukan sombong jugak! Tapi yaa mana orang bisa menghargai kalau yang orang tangkap tentang kita sebegitu minimnya.

Setelah ikut rapat juga saya seperti baru dikembalikan ke rapat-rapat masa kuliah, ramai dengan semburan idealisme yang berapi-api dari sana sini. Oiya! Bagaimana saya bisa lupa bahwa rapat yang progresif tentunya ramai, bukan rapat kromo inggil diiringi gelontoran teh nasgitel dan keripik singkong, tenang bagai dua kakek bermain catur di petang hari, tapi begitu keluar bingung apa yang tadi dibicarakan di dalam dan apa yang dilakukan setelahnya.

Ayo dong, bergerak, berubah, berlari.

Atau saya yang salah tempat berdiri? Hayooooo. Katanya bukan kutu loncat?

Add comment 29 April 2009

I really really should mention them!

betul sekali. saya mesti menulisnya, supaya di saat-saat galau, I remember there are things to be grateful for, dan menghapuskan pemikiran untuk kabur dari ‘bumi’ yang damai ini. bisakah mengingat lima oh-schoo-schweet moments dalam tiga bulan pertama ini?

  1. paling diingat, 4 anak kucing belang tiga berjemur rapi di trotoar dekat guesthouse, saat pagi-pagi sekali melintas demi bisa makan nasi uduk dengan tenang. lucu banget banget bangett.
  2. jam-jam hening tanpa suara pada pagi hari saat akhir pekan. sungguh sesuai dengan bioritme saya, yang masih mau malas-malasan dengan kelembaman total, dengan teh jeruk hangat dan bacaan ringan.
  3. sistem ‘pintu kemana saja’, karena anak baru jadi bisa disuruh-suruh kemana saja. asyiik. karena kemana saja selama ini berarti jalan-jalan ke alam bebas melihat lutung dan padang semi-edensor.
  4. tupai di pohon dekat parkiran! wah wah wah. lovable furry cutie-pie, and it is alive, saudara-saudara!
  5. orang-orang sekitar yang sungguh rendah hati dan tidak sombong. senioritas belum terasa, sampai sekarang sih.

bisa geuning.

Add comment 25 April 2009

justifikasi profesor doktor msc apt APU

pimpinan dari segala pimpinan di institusi saya belum lama ini diganti. sang pimpinan baru (yang ganteng, FYI), sebut saya Bapak Sirup, bersafari dari lantai ke lantai ingin menemui staf-stafnya, tentu saja dengan ditemani bawahannya (yang masih atasan dari atasan saya), Bapak Dufan (yang penampakannya mirip Bapak Mario Teguh cuma dalam versi jahat dengan mata yang khas peran antagonis sinetron).

Bapak Sirup yang ganteng – ah suka betul saya gayanya. Percuma, kata beliau, jika apa yang kita lakukan tidak memberikan efek di ekonomi nasional. Sayang sekali, kata beliau, melihat para Master-master (orang-orang lulusan strata dua, bukan pemenang reality show mejik-mejikan) membersihkan PLTS. Yaa..bukan berarti pekerjaan itu hina bagi mereka, tapi kan masih bisa ada penyebaran tanggung jawab supaya yang mereka lakukan sesuai dengan kapabilitasnya (atau jangan-jangan memang sebegitulah batas kapabilitas mereka? wah.)

Kemudian momen krik-krik pun datang. Saat bapak Sirup menyentil program kerja Obat Herbal Bapak Dufan sebagai ‘apa benar itu yang dibutuhkan oleh industri kita sekarang?’ dan kemudian menggeser program Bapak Dufan (yang telah bertahun-tahun mendapat gelontoran dana miliaran tanpa hasil membanggakan) ke program ‘pilihan’, sementara Bapak Ganteng itu mengajukan program Obat Generik sebagai prioritas. Mana yang masuk akal? Menurut saya yang memang sering bergidik mendengar herbal, tentu programnya Bapak Sirup.

Lha wong memang obat di negeri ini sungguh menjulang ke stratosfer harganya. Jadi tidak salah sepertinya jika kita memulai dengan yang makro dan prioritas (alah bahasa macam apa ini).

Kemudian Bapak Sirup menganjurkan supaya kami membuat Kajian Industri secara Nasional, supaya tahu, apa sih sebenarnya yang diperlukan? Okay, masuk akal juga (faktor ganteng dan almamater memang mungkin ada pengaruhnya).

Tapi yang kemudian diterima oleh para bawahannya adalah kajian mengenai program yang selama ini telah berjalan, program Bapak Dufan maksudnya. Supaya keliatan kalau yang dia lakukan itu penting, itu benar. Kok kita ga bikin yang obat sintetik Pak? (tanya saya). Yaaa, tergantung memorandumnya, Mbak (kata atasan langsung saya).

Laaahh gimana bisa tau apa yang sebenarnya Indonesia perlukan kalau yang dikaji adalah yang telah dilakukan, bukan yang akan dilakukan????? Kok yang dibuat malah justifikasi tentang program yang dibuat sendiri?? Gimana taunya coba program yang dibuat melenceng atau tidak? Siapa tau yang dikerjain itu hanya seperintil kecil mungil nanomasalah di Indonesia kalau ga tau persentase dan prioritas keseluruhan?

Keluar-keluar agak kipas-kipas, untung data telah dicari sebelum mengetahui Rencana Pembelaan Diri. Untung ada rekan yang bisa diajak menyampah tentang idealisme yang masih ada (hahahaha idealisme yang mana pulaa??).

Susah memang sepertinya buat legowo dan menerima tuntunan pimpinan baru (yang sebelumnya saingan dalam mendapatkan jabatan tersebut), tapi bukan berarti mencari pembenaran atas sesuatu yang belum tentu benar kan?

-ternyata cape juga ngemeng-ngemeng gini-

Add comment 25 April 2009

pertama

fufufu.

saya cuma pekerja negara yang perlu memuntahkan friksi2 yang tidak termuntahkan di ruang rapat atau kata-kata definitif yang tidak genah merenah tumaninah di memorandum pimpinan.

supaya kalau jadi pejabat (ngeee), masih bisa ingat apa yang saya dulu percaya, supaya masih ingat apa yang benar (meski itu cuma menurut saya).

Add comment 25 April 2009


Categories

  • Blogroll

  • Feeds